Cermin Jiwa
Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri.
Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang
menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun
anggrek. Hangat matahari menyingkap kabut di rambutnya. Dari celah-celah bunga
anggrek, ia menatapi Ismail, lelaki muda di seberang jalan. Lelaki itu
menyusuri kesunyian ke kantor. Sepasang kupu-kupu mengitari kepalanya. Cahaya
matanya serupa cermin jiwa: memantulkan hangat semesta yang membuka cakrawala
Ulfa.
Di kebun anggrek itu Ulfa memantulkan kesegaran
bunga-bunga mekar. Gadis itu sengaja berada di kebun anggrek. Ia bisa mencium
aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak.
Mencuri pandang pada Ismail, lelaki kurus, dengan hidung mencuat, bibir tipis dan
jarang berbincang. Ketampanan lelaki itu terselubung sepi. Tinggal di rumah
kayu yang luas dan terpelihara, lelaki kurus itu terlambat menikah. Ulfa selalu
menatap matanya yang memantulkan keteduhan tanah yang ditumbuhi rumput, perdu,
dan bunga-bunga liar.
Tatapan Ulfa pada Ismail sering kali dilakukannya
dengan diam-diam, menakik rasa gundah yang nyeri di hati. Ismail seperti hidup
sendirian, setelah ibunya meninggalkannya, pergi begitu saja, pada umurnya yang
sepuluh tahun. Ulfa selalu memandangi lelaki itu sejak kecil. Lelaki itu terus
saja bekerja, mengaji ke surau, tanpa senyum, tanpa berbincang-bincang.
Ayah Ismail sungguh aneh. Lelaki tua itu selalu
keluyuran malam. Rambutnya memutih seluruhnya. Separuh wajah bagian kanan,
menghitam arang memendam bara. Ia selalu bepergian tiap malam, mencari lawan
berjudi, dan kata orang, sesekali mencuri sarang burung walet di tebing terjal
pantai. Ia merambati tebing-tebing karang selengket cicak. Lewat larut malam ia
pulang. Mabuk. Meracau. Teriak-teriak. Lantang. Menembus kabut dini hari.
Lambat laun Ulfa mulai paham, dan ia takjub,
melihat Ismail tumbuh dengan dirinya sendiri, di rumah kayu yang luas,
peninggalan kakeknya.
Pada gerimis yang rapuh, menjelang senja,
burung-burung sriti menghambur di atas pohon randu alas, di belakang surau.
Bercericit gaduh. Ayah Ismail mengetuk pintu rumah Ulfa, teratur dan sopan.
Suaranya berat dan patah-patah. Ulfa berlarian membukakan pintu. Meminta lelaki
berambut putih itu duduk di ruang tamu. Gugup.
“Tolong panggilkan ayah dan ibumu,” pinta ayah
Ismail. Sungguh gemetar Ulfa memandangi ayah Ismail. Tatapan lelaki tua itu
liar, beringas, dan menyerang.
Abah Lutfi, ayah Ulfa, tersenyum tenang.
“Aku ingin bicara juga dengan istrimu,” kata ayah
Ismail, dengan permohonan yang lembut. Tapi Umi, ibu Ulfa, menahan rasa takut,
getar dalam dada. Guncangan tertahan itu diredakannya.
“Begini, Abah Lutfi. Saya datang sore ini untuk
meminang Ulfa bagi Ismail. Saya sudah tua, tak bisa memberikan apa pun bagi
anak saya itu, kecuali mencarikannya jodoh.”
Terdiam. Lama. Belahan wajah hitam ayah Ismail
seperti bara terhembus angin. Lelaki tua itu mengambil napas, dan meredakan
rasa murka. Dipandanginya Abah Lutfi yang tersenyum.
“Aku serahkan pinangan ini pada Ulfa,” sahut Abah
Lutfi, teduh dan lembut.
Buru-buru Umi menyambut. “Aku minta waktu agar
anak gadisku cukup matang.”
Lelaki berambut memutih dengan belahan wajah hitam
itu tampak teduh dan tenteram. Memandangi Abah Lutfi dan Umi, bergantian,
mencari kepastian. Tiap saat ia menatap wajah Abah Lutfi yang tersenyum, bara
dalam belahan wajahnya padam. Tiap saat ia menatap wajah Umi yang menegang,
bara dalam belahan wajahnya menyala. Terhenti ia pada segaris senyum Abah
Lutfi, yang tulus, dan tak dibuat-buat. Lelaki tua itu menunduk. Terus tersenyum.
Ayah Ismail berdiam diri. Memandangi lagi Abah
Lutfi. Mencari keyakinan. Ayah Ismail mengangguk-angguk. Bangkit. Mohon diri.
Mengulurkan tangan. Menyalami Abah Lutfi. Berpamitan. Bukan sekadar bersalaman.
Ayah Ismail mencium tangan Abah Lutfi. Tertetes sepercik air mata di punggung
tangan Abah Lutfi.
Burung-burung sriti tak lagi gaduh bercericit.
Hinggap di dahan pohon randu alas. Seketika sepi, seketika pekat merambat.
Di surau, di belakang rumah kayu Abah Lutfi, samar
terdengar suara anak-anak mengaji. Abah Lutfi berdiam diri di meja makan.
Menelantarkan pepes ikan mas kesukaannya. Tak berselera. Dipandanginya Ulfa dan
Umi bergantian, kehilangan suara.
Telah mengering sepercik air mata di punggung
tangan Abah Lutfi. Tapi tangan itu tak segera dicucinya. Tak digerakkannya
untuk menuang nasi dalam piring. Tak melahap pepes ikan mas. Terdiam.
Menampakkan rautan renungan dalam wajahnya, terutama di sekitar mata.
“Apa yang Abah risaukan?” tegur Ulfa, pelan,
teduh.
“Bagaimana aku menampik lamaran ayah Ismail?”
“Kenapa mesti ditampik?”
Terbatuk, Abah Lutfi menukas, “Kau menerimanya?”
“Kalau Abah amati sisi wajah ayah Ismail yang
bersih, tentu tak perlu bimbang macam ini.”
“Kau menerima Ismail?”
“Saya hanya meminta Abah melihat sisi terang pada
wajah ayah Ismail.”
“Ho-ho, kau selalu begitu!”
Seketika, tersenyum dan
cairlah rautan renungan dalam wajah Abah Lutfi. Lelaki itu mengambil nasi,
makan dengan lahap. Pepes ikan mas itu tinggal duri-duri. Pada bagian kepala ikan pun dicecapnya. Terserak
remah-remah tulang belulang dan duri ikan di piring. Tak ada lagi percakapan.
Terdengar sendawa Abah Lutfi. Berkali-kali.
Sesuatu yang tak lazim, Ismail memandang ayahnya
bersarung, berpeci, dan buru-buru melangkah ke surau Abah Lutfi menjelang
magrib. Belum pernah Ismail melihat wajah ayahnya sebening itu. Belahan wajah
menghitam itu tak lagi membara. Belahan wajah itu seteduh lumpur sawah musim
tanam padi.
Malam hari ayah Ismail memasuki rumah,
pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara. Duduk di ruang tengah. Terbatuk. Menghirup
kopi. Merokok. Termenung. Sesekali mencuri-curi pandang ke arah anak lelakinya.
“Telah kulamar Ulfa untukmu,” kata ayah Ismail,
berat, dan menunduk. Tak tampak kerisauan pada wajah Ismail. Tetap tenang.
Melakukan segala hal sendirian. Diam-diam.
arah lelaki
tua itu. Tiap kali dilihatnya belahan hitam wajah lelaki itu, Umi—tanpa
disadarinya—bergidik. Buru-buru ia meninggalkan surau. Tak dilihatnya dalam
kelam puncak pohon randu alas, cericit burung-burung sriti beterbangan. Sesaat.
Kembali sunyi.
Tiap kali datang orang baru ke surau, Umi selalu
menyambut dengan mata bercahaya. Kali ini lain. Dadanya berdegup.
Meletup-letup. Tak bisa dibayangkannya, Ulfa, anak gadisnya, hidup serumah
dengan lelaki beringas, yang selalu membawa ceracau mabuk dan murka ke rumah.
“Ayah Ismail itu, uh, mengapa selalu datang ke
surau?” gerutu Umi.
“Mestinya Umi merasa senang. Dia datang ke surau
kita. Bukannya mabuk,” tukas Ulfa, mencengangkan.
“Dia berbuat begitu lantaran ingin meminangmu.”
“Ini lebih baik, daripada dia keluyuran malam, dan
mencuri sarang burung walet.”
Subuh keempat puluh ayah Ismail berkunjung ke
surau Abah Lutfi. Tak seorang pun menatap langit di atas pohon randu alas, di
belakang surau. Burung-burung sriti berkitar-kitar, bercericit,
hinggap-terbang, hinggap dan terbang lagi di pohon randu alas itu. Langit masih
gelap, dan burung-burung sriti itu luput dari perhatian orang-orang yang
bergegas ke surau.
Tak sekali pun ayah Ismail bertanya kepada Abah
Lutfi mengenai pernikahan anak lelakinya dengan Ulfa. Dalam diam bersimpuh, dia
biasa terisak-isak, dengan mata terpejam memanjatkan doa. Tatkala orang-orang
sudah meninggalkan surau, dia masih bersimpuh sendirian. Lama, hingga matahari
berkilau menghangati hamparan tikar surau. Lelaki tua itu beringsut, pelan, bangkit.
Kali ini, dalam dingin kabut dini hari, ayah
Ismail telah menyempurnakan ketenteraman wajahnya dari pergolakan. Belahan
hitam wajahnya tak menyeramkan, serupa lumpur sawah yang digenangi air: rata,
datar, menyimpan anugerah alam. Orang-orang di surau mulai menerima kehadiran
lelaki tua itu. Tak lagi menatap dengan selidik dan tatapan curiga.
Di tengah-tengah suara orang berdoa, sehabis
shalat subuh, ayah Ismail tak dapat menahan tubuh. Tersungkur. Tiada lagi napas
mengembus dari hidungnya. Ia rebah dengan tangan masih menggenggam tasbih.
Tubuhnya terjerembap. Tidak menggelepar. Tidak berkelejatan. Tubuh itu terburu,
kehilangan napas pelan-pelan, di antara orang- orang yang bersimpuh doa.
Mula-mula orang-orang tak menduga lelaki tua itu direnggut ajal. Tapi kemudian
orang-orang terperanjat, gugup dan memekik tertahan.
Kini orang-orang mulai melihat cericit
burung-burung sriti yang tak terhitung banyaknya, berkitar-kitar terbang di
puncak pohon randu alas, di belakang surau Abah Lufti. Dalam sekejap, sangat
cepat, burung-burung sriti itu hinggap di dahan dan ranting pohon randu alas.
Tak lagi mengepakkan sayap. Tak lagi bercericit gaduh.
Sepasang kupu-kupu kuning terbang di atas kepala
Ismail. Ulfa sangat gemas, ingin menangkap sepasang kupu-kupu itu. Selalu
dilihatnya tiap pagi, diam-diam di kebun anggrek yang menyembunyikan wajah dan
tubuhnya, kupu-kupu di atas kepala Ismail. Lelaki itu berangkat ke kantor.
Berjalan kaki. Selalu berjalan kaki ke mana pun pergi. Dan sepasang kupu-kupu
itu mengantarkannya menyusuri jalan berumput pada pagi berkabut, saat embun
meraup tersengat matahari.
Abah Lufti diam-diam memperhatikan perilaku anak
gadisnya. Sambil minum teh, menghisap pipa rokok, saat matahari menghangat, dia
menemukan anak gadisnya turun ke kebun anggrek samping rumah, hanya untuk
melihat Ismail. meninggalkan rumah, berjalan kaki, diiringi kupu-kupu. Mengapa
sepasang kupu-kupu? Dalam jarak yang begitu jauh, sepasang kupu-kupu itu terus
mengitari kepala Ismail.
Kepergok Abah Lutfi memasuki rumah, Ulfa tersipu-sipu.
Terhenti. Menanti teguran.
“Apa Abah mesti menegur Ismail, bagaimana
kelanjutan lamaran ayahnya dulu?”
“Biar Ismail sendiri yang menentukan,” tukas Ulfa
tenang. “Abah jangan salah sangka. Aku cuma suka memandangi sepasang matanya.
Sungguh aneh mata itu, selalu memancarkan alam yang lembut dan tanpa dendam. Aku
suka memandanginya.”
Pandana Merdeka, Februari 2007
Oleh
: Prasetyo Utomo
Sumber cerpen :
cerpenkompas.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar