Selasa, 10 April 2012

Pojok Pulsa

Pulsa Elektrik telah berkembang menjadi salah satu kebutuhan sekunder yang cukup dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini


Pojok Pulsa Elektrik merupakan server pulsa elektrik nasional yang telah melayani pelanggan selama 4 Tahun dengan pengalaman menangani puluhan juta transaksi pengisian voucher elektrik sampai saat ini.


Sebagian besar pedagang pulsa sebelum memutuskan untuk mendaftar pada Server pulsa elektrik biasanya menimbang-nimbang harga yang diberikan baru kemudian manilai kecepatan transaksi .
Oleh karena itu Pojok pulsa memberikan harga pulsa elektrik yang kompetitif, yang memungkinkan kita masih bisa bersaing tanpa mengabaikan pelayanan yang diberikan,  harga pulsa elektrik yang murah dapat menarik pelanggan-pelanggan baru untuk membeli di outlet/konter kita. Pojok pulsa berkembang di Jakarta, tetapi Pojok Pulsa Elektrik adalah Server Nasional sehingga jangkauan layanannya mencakup seluruh bagian dari wilayah Indonesia, semua transaksi area cluster dilakukan melalui mekanisme pengisian masing – masing chip operator yaitu MKIOS, MTRONIK, DOMPUL, Isi Esia, Dompet Three, e-AXIS dll.


Disamping pulsa elektrik , pojok pulsa juga menyediakan produk lainnya seperti Voucher Token PLN. Saat ini sudah banyak perumahan yang telah menggunakan Sistem Listrik Prabayar dari PLN, oleh karena itu pojok pulsa menyediakan produk ini untuk meningkatkan penjualan kita.


selain yang tertera di atas ,masih banyak lagi keunggulan yang akan didapat jiga bergabung menjadi member pojok pulsa selain itu pojok pulsa juga mengadakan kuis yang berhadiah ratusan ribu voucher pulsa ..wow asik  :)


Untuk informasi :


Jln Pembina 1 Rt. 014/02 Cipinang Muara
Jatinegara, Jakarta Timur
Phone : (021) 950-98690 / 922-98937
Mobile : 0812-1-6060-600 (SMS Only)
http://pojokpulsa.co.id



selamat bergabung^^



Sabtu, 07 April 2012

CERPEN dari...


Cermin Jiwa
Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri. Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun anggrek. Hangat matahari menyingkap kabut di rambutnya. Dari celah-celah bunga anggrek, ia menatapi Ismail, lelaki muda di seberang jalan. Lelaki itu menyusuri kesunyian ke kantor. Sepasang kupu-kupu mengitari kepalanya. Cahaya matanya serupa cermin jiwa: memantulkan hangat semesta yang membuka cakrawala Ulfa.
Di kebun anggrek itu Ulfa memantulkan kesegaran bunga-bunga mekar. Gadis itu sengaja berada di kebun anggrek. Ia bisa mencium aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak. Mencuri pandang pada Ismail, lelaki kurus, dengan hidung mencuat, bibir tipis dan jarang berbincang. Ketampanan lelaki itu terselubung sepi. Tinggal di rumah kayu yang luas dan terpelihara, lelaki kurus itu terlambat menikah. Ulfa selalu menatap matanya yang memantulkan keteduhan tanah yang ditumbuhi rumput, perdu, dan bunga-bunga liar.
Tatapan Ulfa pada Ismail sering kali dilakukannya dengan diam-diam, menakik rasa gundah yang nyeri di hati. Ismail seperti hidup sendirian, setelah ibunya meninggalkannya, pergi begitu saja, pada umurnya yang sepuluh tahun. Ulfa selalu memandangi lelaki itu sejak kecil. Lelaki itu terus saja bekerja, mengaji ke surau, tanpa senyum, tanpa berbincang-bincang.
Ayah Ismail sungguh aneh. Lelaki tua itu selalu keluyuran malam. Rambutnya memutih seluruhnya. Separuh wajah bagian kanan, menghitam arang memendam bara. Ia selalu bepergian tiap malam, mencari lawan berjudi, dan kata orang, sesekali mencuri sarang burung walet di tebing terjal pantai. Ia merambati tebing-tebing karang selengket cicak. Lewat larut malam ia pulang. Mabuk. Meracau. Teriak-teriak. Lantang. Menembus kabut dini hari.
Lambat laun Ulfa mulai paham, dan ia takjub, melihat Ismail tumbuh dengan dirinya sendiri, di rumah kayu yang luas, peninggalan kakeknya.
Pada gerimis yang rapuh, menjelang senja, burung-burung sriti menghambur di atas pohon randu alas, di belakang surau. Bercericit gaduh. Ayah Ismail mengetuk pintu rumah Ulfa, teratur dan sopan. Suaranya berat dan patah-patah. Ulfa berlarian membukakan pintu. Meminta lelaki berambut putih itu duduk di ruang tamu. Gugup.
“Tolong panggilkan ayah dan ibumu,” pinta ayah Ismail. Sungguh gemetar Ulfa memandangi ayah Ismail. Tatapan lelaki tua itu liar, beringas, dan menyerang.
Abah Lutfi, ayah Ulfa, tersenyum tenang.
“Aku ingin bicara juga dengan istrimu,” kata ayah Ismail, dengan permohonan yang lembut. Tapi Umi, ibu Ulfa, menahan rasa takut, getar dalam dada. Guncangan tertahan itu diredakannya.
“Begini, Abah Lutfi. Saya datang sore ini untuk meminang Ulfa bagi Ismail. Saya sudah tua, tak bisa memberikan apa pun bagi anak saya itu, kecuali mencarikannya jodoh.”
Terdiam. Lama. Belahan wajah hitam ayah Ismail seperti bara terhembus angin. Lelaki tua itu mengambil napas, dan meredakan rasa murka. Dipandanginya Abah Lutfi yang tersenyum.
“Aku serahkan pinangan ini pada Ulfa,” sahut Abah Lutfi, teduh dan lembut.
Buru-buru Umi menyambut. “Aku minta waktu agar anak gadisku cukup matang.”
Lelaki berambut memutih dengan belahan wajah hitam itu tampak teduh dan tenteram. Memandangi Abah Lutfi dan Umi, bergantian, mencari kepastian. Tiap saat ia menatap wajah Abah Lutfi yang tersenyum, bara dalam belahan wajahnya padam. Tiap saat ia menatap wajah Umi yang menegang, bara dalam belahan wajahnya menyala. Terhenti ia pada segaris senyum Abah Lutfi, yang tulus, dan tak dibuat-buat. Lelaki tua itu menunduk. Terus tersenyum.
Ayah Ismail berdiam diri. Memandangi lagi Abah Lutfi. Mencari keyakinan. Ayah Ismail mengangguk-angguk. Bangkit. Mohon diri. Mengulurkan tangan. Menyalami Abah Lutfi. Berpamitan. Bukan sekadar bersalaman. Ayah Ismail mencium tangan Abah Lutfi. Tertetes sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi.
Burung-burung sriti tak lagi gaduh bercericit. Hinggap di dahan pohon randu alas. Seketika sepi, seketika pekat merambat.
Di surau, di belakang rumah kayu Abah Lutfi, samar terdengar suara anak-anak mengaji. Abah Lutfi berdiam diri di meja makan. Menelantarkan pepes ikan mas kesukaannya. Tak berselera. Dipandanginya Ulfa dan Umi bergantian, kehilangan suara.
Telah mengering sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi. Tapi tangan itu tak segera dicucinya. Tak digerakkannya untuk menuang nasi dalam piring. Tak melahap pepes ikan mas. Terdiam. Menampakkan rautan renungan dalam wajahnya, terutama di sekitar mata.

“Apa yang Abah risaukan?” tegur Ulfa, pelan, teduh.
“Bagaimana aku menampik lamaran ayah Ismail?”
“Kenapa mesti ditampik?”
Terbatuk, Abah Lutfi menukas, “Kau menerimanya?”
“Kalau Abah amati sisi wajah ayah Ismail yang bersih, tentu tak perlu bimbang macam ini.”
“Kau menerima Ismail?”
“Saya hanya meminta Abah melihat sisi terang pada wajah ayah Ismail.”
“Ho-ho, kau selalu begitu!”
Seketika, tersenyum dan cairlah rautan renungan dalam wajah Abah Lutfi. Lelaki itu mengambil nasi, makan dengan lahap. Pepes ikan mas itu tinggal duri-duri. Pada bagian kepala ikan pun dicecapnya. Terserak remah-remah tulang belulang dan duri ikan di piring. Tak ada lagi percakapan. Terdengar sendawa Abah Lutfi. Berkali-kali.
Sesuatu yang tak lazim, Ismail memandang ayahnya bersarung, berpeci, dan buru-buru melangkah ke surau Abah Lutfi menjelang magrib. Belum pernah Ismail melihat wajah ayahnya sebening itu. Belahan wajah menghitam itu tak lagi membara. Belahan wajah itu seteduh lumpur sawah musim tanam padi.
Malam hari ayah Ismail memasuki rumah, pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara. Duduk di ruang tengah. Terbatuk. Menghirup kopi. Merokok. Termenung. Sesekali mencuri-curi pandang ke arah anak lelakinya.
“Telah kulamar Ulfa untukmu,” kata ayah Ismail, berat, dan menunduk. Tak tampak kerisauan pada wajah Ismail. Tetap tenang. Melakukan segala hal sendirian. Diam-diam.
 arah lelaki tua itu. Tiap kali dilihatnya belahan hitam wajah lelaki itu, Umi—tanpa disadarinya—bergidik. Buru-buru ia meninggalkan surau. Tak dilihatnya dalam kelam puncak pohon randu alas, cericit burung-burung sriti beterbangan. Sesaat. Kembali sunyi.
Tiap kali datang orang baru ke surau, Umi selalu menyambut dengan mata bercahaya. Kali ini lain. Dadanya berdegup. Meletup-letup. Tak bisa dibayangkannya, Ulfa, anak gadisnya, hidup serumah dengan lelaki beringas, yang selalu membawa ceracau mabuk dan murka ke rumah.

“Ayah Ismail itu, uh, mengapa selalu datang ke surau?” gerutu Umi.
“Mestinya Umi merasa senang. Dia datang ke surau kita. Bukannya mabuk,” tukas Ulfa, mencengangkan.
“Dia berbuat begitu lantaran ingin meminangmu.”
“Ini lebih baik, daripada dia keluyuran malam, dan mencuri sarang burung walet.”
Subuh keempat puluh ayah Ismail berkunjung ke surau Abah Lutfi. Tak seorang pun menatap langit di atas pohon randu alas, di belakang surau. Burung-burung sriti berkitar-kitar, bercericit, hinggap-terbang, hinggap dan terbang lagi di pohon randu alas itu. Langit masih gelap, dan burung-burung sriti itu luput dari perhatian orang-orang yang bergegas ke surau.
Tak sekali pun ayah Ismail bertanya kepada Abah Lutfi mengenai pernikahan anak lelakinya dengan Ulfa. Dalam diam bersimpuh, dia biasa terisak-isak, dengan mata terpejam memanjatkan doa. Tatkala orang-orang sudah meninggalkan surau, dia masih bersimpuh sendirian. Lama, hingga matahari berkilau menghangati hamparan tikar surau. Lelaki tua itu beringsut, pelan, bangkit.
Kali ini, dalam dingin kabut dini hari, ayah Ismail telah menyempurnakan ketenteraman wajahnya dari pergolakan. Belahan hitam wajahnya tak menyeramkan, serupa lumpur sawah yang digenangi air: rata, datar, menyimpan anugerah alam. Orang-orang di surau mulai menerima kehadiran lelaki tua itu. Tak lagi menatap dengan selidik dan tatapan curiga.
Di tengah-tengah suara orang berdoa, sehabis shalat subuh, ayah Ismail tak dapat menahan tubuh. Tersungkur. Tiada lagi napas mengembus dari hidungnya. Ia rebah dengan tangan masih menggenggam tasbih. Tubuhnya terjerembap. Tidak menggelepar. Tidak berkelejatan. Tubuh itu terburu, kehilangan napas pelan-pelan, di antara orang- orang yang bersimpuh doa. Mula-mula orang-orang tak menduga lelaki tua itu direnggut ajal. Tapi kemudian orang-orang terperanjat, gugup dan memekik tertahan.
Kini orang-orang mulai melihat cericit burung-burung sriti yang tak terhitung banyaknya, berkitar-kitar terbang di puncak pohon randu alas, di belakang surau Abah Lufti. Dalam sekejap, sangat cepat, burung-burung sriti itu hinggap di dahan dan ranting pohon randu alas. Tak lagi mengepakkan sayap. Tak lagi bercericit gaduh.
Sepasang kupu-kupu kuning terbang di atas kepala Ismail. Ulfa sangat gemas, ingin menangkap sepasang kupu-kupu itu. Selalu dilihatnya tiap pagi, diam-diam di kebun anggrek yang menyembunyikan wajah dan tubuhnya, kupu-kupu di atas kepala Ismail. Lelaki itu berangkat ke kantor. Berjalan kaki. Selalu berjalan kaki ke mana pun pergi. Dan sepasang kupu-kupu itu mengantarkannya menyusuri jalan berumput pada pagi berkabut, saat embun meraup tersengat matahari.
Abah Lufti diam-diam memperhatikan perilaku anak gadisnya. Sambil minum teh, menghisap pipa rokok, saat matahari menghangat, dia menemukan anak gadisnya turun ke kebun anggrek samping rumah, hanya untuk melihat Ismail. meninggalkan rumah, berjalan kaki, diiringi kupu-kupu. Mengapa sepasang kupu-kupu? Dalam jarak yang begitu jauh, sepasang kupu-kupu itu terus mengitari kepala Ismail.
Kepergok Abah Lutfi memasuki rumah, Ulfa tersipu-sipu. Terhenti. Menanti teguran.
“Apa Abah mesti menegur Ismail, bagaimana kelanjutan lamaran ayahnya dulu?”
“Biar Ismail sendiri yang menentukan,” tukas Ulfa tenang. “Abah jangan salah sangka. Aku cuma suka memandangi sepasang matanya. Sungguh aneh mata itu, selalu memancarkan alam yang lembut dan tanpa dendam. Aku suka memandanginya.”
Pandana Merdeka, Februari 2007
Oleh : Prasetyo Utomo
Sumber cerpen : cerpenkompas.wordpress.com

PUISI buatan temen-temen


CINTA
Karya : Denny Ardi S.

CINTA adalah sekuntum bunga indah menawan
yang membuaiku dengan peluk hangat kasih sayang
lembut dekapan naluri pengertian
ungkapan kebaikan dan kejujuran
curahkan keindahan senyum kesetiaan
Cinta bikin orang mabuk kepayang
siang malam selalu terbayang bayang
mengharap bahagia kan datang menjelang
tapi saat cinta bertepuk sebelah tangan
segalanya berubah menjadi kelam

cinta tak butuh janji
tapi butuh bukti yang pasti
hanya cinta sejati yang kan abadi sampai akhirnanti
Saat cinta datang mengetuk pintu hati
membawa sekeranjang perhatian dan setangkai kasih sayng
sambut dengan senyum malu
setelah cinta singgah dihati
dunia terasa indah sekali

Bila cinta harus berakhir dengan kesedihan
jangan pernah menyesal dengan sebuah pertemuan
Berterima kasihlah  kepada Tuhan atas perasaan cinta yang di anugrahkan
mempertemukan perbedaan dalam suatu kisah perjalanan
menyatukan puing puing hati dalam satu kepastian
menghapus kehampaan saat hati dalam kesendirian
memberi makna rangkaian kisah kehidupan

SEBATAS MIMPI
Karya : Denny Ardi S.

Saat pertama Kudekati dirimu
menuruti semua inginmu
dan tiba waktumu tuk beri jawaban
ternyata kau anggap aku hanya teman

bawalah aku kedalam mimpimu
aku tak akan kecewekan kamu
aku tak kan meninggalkanmu
walaupun itu semua
 hanya sebatas mimpi

Jadikan aku kekasih hatimu
aku menginginkan kamu

telah berbagai cara
tuk dapatkan hatimu
tetap saja kau anggap aku hanya teman

setelah aku sadar diri
aku tinggalkan mimpi yang tak kan bertepi








Dahsyatnya Cinta
Karya : Dwi Wulan F.

Cinta........
mampu melunakkan besi
menghancurkan batu
membangkitkan yang mati
dan meniupkan kehidupan padanya
membuat budak menjadi pemimpin
mengubah pahit menjadi manis
debu beralih emas
keruh menjadi bening
penjara menjadi telaga
derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah
Tetapi
Cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci










Terima Kasihku

Karya : Dwi Wulan F.


Terima kasihku.....
Untuk semua waktumu yang kau berikan padaku
Untuk kasih sayang yang tlah kau berikan padaku
Entah berapa lama kita membagi rasa
Jangan ada dendam dihati
Meski hatiku tak lagi milikmu
Aku bisa yakinkan
Cintaku tetap milikmu
Sisa hati ini tetap kusimpan
Melewati ribuan malam
Aku bisa bertahan
Cintaku takkan hilang















Untukmu Ibu

Karya : Dwi Wulan F.


Dari 1 bulan hingga 9 bulan 10 hari
Ia seperti orang yang berpuasa
Yang berjuang menegakkan agama Allah
Kesakitan yang dirasakan sewaktu
Jabang bayi akan muncul di dunia
Sepeti orang yang memerdekakan hamba yang beriman
Kesakitan itu tlah terlewati
Tak ada yang tahu seberapa besar
Kebahagiaannya
Untuknya dari setiap hisapan susu
Seperti orang yang memerdekakan sepuluh hamba sahaya












Kisah Jam Tua
Karya : Ichsan S.
Kau terus berdetak..
Hingga warnamu kian usang…
Dan dirimu tak indah lagi dipandang..
                        Kau terus berdetak
Walau suasana sekelilingmu kian berubah..
Namun dirimu tetap sama
Berdetak tiap detik waktu
Dan itulah kau..
Sampai kapan kau akan terus berdetak
Hingga mungkin kan seirama,
dengan detak jantungku
                        Inilah kisah jam tua...
Yang terus berdetak di dinding kusam penuh noda
Dan aku bertanya,
Sampai kapankah kau kan terus berdetak ..






Pengagum Rahasia
Karya : Ichsan S.

Kutulis sebaris kata
Walau sederhana
Untukmu Nona yang mengusik jiwa
Senyummu di musim cerah
Matamu surya memancar ramah
Hadirmu berikan sebuah kisah
Ingin ku selami samudra hatimu
Temukan mutiara tiada tara
Ingin ku teriakkan isi hati ini
Tapi begitu berat terasa
Ku susun serangkai nada
                        Walau sederhana
            Terlantun bagimu Nona yang menyentuh jiwa..
                        Dan lihatlah aku Sang pengagum rahasia





MENGENANGMU
Karya : Juliani M.R.

Di malam gelap tak berbintang
Engkau termangu menunggu siang
Menunggu tibanya yang tersayang
Walaupun kau tahu dia tak pulang
                                      Perlahan air matamu menggenang
                                      Mengenang dia yang kau sayang
                                      Saat –saat indah kau bersamanya
                                      Kini tiada terasa sisanya
Isak tangis dan harapan menggantung
Tak tahu mana yang beruntung
Kala dia bertarung
Mencari tempat bernaung
                                      Tapi apa daya. . .
                                      Nasib telah menjatuhkan kuasa
                                      Atas apa yang tak diketahui manusia
Kini. . . . . . .
Tinggal hari sepi yang menemani
Tanpa si dia dihati


Ibu
Karya : Juliani M.R.

Kala malam masih gelap gulita
Engkau bangun………………..
Bersujud engkau di hadapan sang maha kuasa
Demi anakmu
                        Ibu……………………….
                        Kala sang surya belum menerpa
                        Engkau bangunkanku
                        Dan berkata “Nak sholat”
                        Dengan malas aku terjaga
                        Dengan acuh aku laksana
                        Namun engkau tetap setia
                        Membimbing aku kehapan-NYA
Ibu…………..
Kala surya telah tinggi
Tiada henti engkau mengabdi
Rasa lelahpun tak engkau hiraui
Demi keluarga yang engkai cintai
                        Ibu……………………
                        Kala surya tenggelam
                        Engkau berbaring disebelahku
                        Wajah ayumu tampak letih
                        Bukti besarnya kerja kerasmu
                        Ingin rasanya kukurangi bebanmu
                        Namun apalah daya, aku takkan mampu
                        Aku hanya dapat terpaku bisu  
Menangis aku dipelukmu                                         



















BELENGGU
Karya : Juliani M.R.

Cinta……….
Satu kata membelenggu jiwa
Entah menawarkan rasa bahagia
Ataupun sengsara
Tak ada yang tahu makna sebenarnya
                        Cinta……………..
                        Mungkin inilah rasaku untukmu
                        Rasa yang ku pendam
                        Rasa yang tak mampu untuk ku ungkapkan
                        Aku terlalu egois untuk itu
                        Mungkinkah rasamu sama sepertiku
                        Rasa ini…………..
                        Rasa yang menyesakkan dada
                        Rasa yang membelenggu jiwa

PANTUN buatan temen-temen


PANTUN
Karya : Denny Ardi S.
Anak lalat,
anak lembu
bola itu bulat
sebulat cintaku

Ditengah pulau,
memakan jambu
gimana aku gak galau
kalo gak liat senyum manismu
Anak pak lurah lagi marah
gara gara kena belati
kamu itu kayak lampu merah
setiap ketemu kamu bawaanya pengen berhenti
Ikan teri
diatas parang
kalau ketemu sehari
rasanya kurang
Beli kepiting
dapat bonus kapal perang
hatiku sudah aku setting
buat kamu seorang







Beli topi
dapat bonus motor ninja
kalau aku lagi mimpi
pengennya ketemu kamu aja
Beli lilin
dapat bonus fanta
biarpun kamu nyebelin
tapi aku tetap cinta
Beli gado gado
dipontianak
cintaku padamu seperti komedo
semakin dibersihkan semakin timbul banyak














Pantun Nasehat
Karya : Dwi Wulan F.

Jika pergi kepadang datar
Jangan lupa pulang berlabuh
Jika kita kepingin pintar
Belajarlah sungguh-sungguh

Ke hutan mencari rusa
Hendaklah membawa tali
Wahai anak bangsa
Lekas bangun cepat mandi

Masak angsa di kuali
Bukan saja di perigi
Hendaklah kamu mengabdi
Dipangkuan ibu pertiwi

Jika hendak kamu melamar
Jangan banyak tulis dihapus
Jika siswa rajin belajar
Sudah tentu pasti lulus


















Pantun Nasehat
Karya : Dwi Wulan F.

Banyak sayur dijual dipasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
Cepat cepatlah pergi makan

Kalau harimau mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama

Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan

Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh ketinggalan
Tapi jangan putus harapan

Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju

Ke hulu membuat pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Supaya jangan sesal kemudian

Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kalau nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati



Pantun Agama
Karya : Dwi Wulan F.


Daun tetap diatas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Perbuatan haram jangan dicoba

Terang bulan terang bercahaya
Cahaya memancar ke tanjung hati
Jikalau hendak hidup bahagia
Beramal ibadah sebelum mati

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat jasad tidak sembahyang

Dua tiga empat lima
Enam tujuh delapan
Kita hidup takkan lama
Jangan lupa siapkan bekalan

Kera dihutan terlompat-lompat
Si pemburu memasang jerat
Hina sungguh sifat mengumpat
Dilaknat Allah dunia akhirat

Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal lapan
Duduk berdoa kepada Tuhan
Minta Allah tunjuk ketetapan

Anak ayam turunnya lima
Mati satu tinggal empat
Turut mengikut alim ulama
Supaya betul jalan makrifat
Pantun Nasehat
Karya : Ichsan S.

Bunga mawar bunga melati
Kalau dicium harum baunya
Banyak cara sejukkan hati
Baca Al-Quran paham maknanya

Beli roti jumlah sepuluh
Dimakan satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Agar tidak ketinggalan

Pergi tamasya membawa bekal
Jangan sampai dikerumuni lalat
Turutlah Nabi siapkan bekal
Dengan sebar ilmu yang manfaat

Ke toko beli air minum
Perginya bareng si Hima
Kalau ada ulangan umum
Mari kita belajar bersama
Pantun Cinta
Karya : Ichsan S.

Pergi ke pasar mampir ke sawah
Di pasar membeli roti
Walau banyak gadis yang singgah
Hanya dinda yang memikat hati

Ke pasar malam bareng Dita
Karena ramai harus hati-hati
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Beli kemeja di Wonogiri
Tak jadi pergi karena ada tamu
Kemanapun dirimu pergi
Aku selalu merindukanmu

Makan pisang sampai kenyang
Habis itu minum jamu
Wahai gadisku sayang
Bolehkah aku bertamu
PANTUN
Karya : Juliani M.R.

Ada cewek yang paling kece
Cewek kece makan kedondong
Kelas mana sih yang paling oke
Pastinya XII IPA I dong
                                    Kota bandung kota kembang
                                    Kembangnya indah menghiasi pagi
                                    Kalau kamu memang sayang
                                    Kenapa selalu menyakiti hati
Jalan-jalan bersama bibi
Mampir sebentar ke pasar baru
Hai kawan selamat pagi
Bagaimanakah dengan kabarmu
                                    Berwisata ke kota Jogjakarta
                                    Jangan lupa beli batik
                                    Hai kawan selamat pagi juga
                                    Kabarku selalu baik
Menangkap ikan ditepi sungai
Sungai mengalir ke hulu samudra
Al-Quran adalah kitab suci
Pedoman hidup umat manusia
                                    Jalan-jalan bersama pak lurah
                                    Jangan lupa membeli guci
                                    Membaca Al-Quran adalah ibadah
                                    Untuk bekal dihari nanti
Buah semangka warnanya merah
Dibeli ibu didalam perahu
Luka di tangan nampak berdarah
Luka di hati siapa yang tahu
naik motor merknya honda
pergi bertandang kerumah anapi
bila cinta mekar di dada
siang terkenang malam termimpi




bila terluka berkata begitu
hingga terlupa cinta yang suci
cinta manusia memanglah begitu
cinta pada-NYA cinta yang sejati
Untuk menjadi seorang perjangga
Harus bertapa di dalam gua
Kalau cinta kukuh di jiwa
Biar melayang kembali jua
Jalan-jalan ke kota sumbawa
mampir sebentar ke peternakan domba
teman sehati selalu bersua
karena tak bisa terpisahkan begitu saja
burung kakatua
hinggap dijendela
siapa yang jatuh cinta
pasti cemburu buta

Definisi Cinta ...???




Mari bicara cinta di malam mingu ini,malam yang dianggap sakral bagi para pemuda pemudi penyuka cinta. Bila kita lihat dari sisi terluar dari kearifan lokal, kita mendapati :
-          Bagi orang Buta cinta adalah cahaya yang bisa dilihat baik siang dan malam hari .. dia tidakgelap seperti yang dirasakannya saat ini.
- Bagi Orang Gila, cinta adalah tertawa, karena kita bisa mentertawakan arti dari kegilaannya.
- Bagi Orang sakit, cinta adalah kesembuhan, dia akan berasa nikmat bila bisa beraktifitas kembali
- Bagi orang putus cinta, cinta adalah menemukan kembali sebahagiaan hidupnya yang
terenggut.
- Bagi orang jomblo, cinta adalah menemukan pasangan yang diidam-idamkannya
- Bagi orang sakit (homo,lesbi), cinta bisa dirasakan kalau dia sejenis
- Bagi orang tua, cinta adalah membahagiakan anak,istri,keluarganya
- Bagi suami, cinta adalah membahagiakan istri dan keluarganya.
- Bagi Kakek, cinta adalah universal, karena maut akan menjemput
- Bagi Nenek, cinta idem kayak kakek di atas
- Bagi Gigolo, Cinta kalau bisa memuaskan tante-tante dan dapat uang banyak…
- Bagi WTS, cinta adalah kalau kau mampu membayar seusai dengan apa yang dia inginkan
- Bagi orang yang susah mendapatkan pasangan, cinta adalah umum, beda alam,beda jenis tidak
masalah yang penting dapat.
- Bagi Supir Angkot, cinta adalah banyak penumpang, biar bini di rumah tidak marah-marah
- Bagi Tukang Becak, cinta adalah kesehatan yang prima, karena menggenjot butuh stamina
bung..!
- Bagi orang cacat, cinta adalah ketika kita tidak memandang mereka sebagai makhluk
tidak berguna.
- Bagi Koruptor, cinta adalah uang
- Bagi Rentenir, cinta adalah bunga (riba)
- dll.
- Bagi pembaca ini adalah bualan semata.