Pulsa Elektrik telah berkembang menjadi salah satu kebutuhan sekunder yang cukup dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini
Pojok Pulsa Elektrik merupakan server pulsa elektrik nasional yang telah melayani pelanggan selama 4 Tahun dengan pengalaman menangani puluhan juta transaksi pengisian voucher elektrik sampai saat ini.
Sebagian besar pedagang pulsa sebelum memutuskan untuk mendaftar pada Server pulsa elektrik biasanya menimbang-nimbang harga yang diberikan baru kemudian manilai kecepatan transaksi .
Oleh karena itu Pojok pulsa memberikan harga pulsa elektrik yang kompetitif, yang memungkinkan kita masih bisa bersaing tanpa mengabaikan pelayanan yang diberikan, harga pulsa elektrik yang murah dapat menarik pelanggan-pelanggan baru untuk membeli di outlet/konter kita. Pojok pulsa berkembang di Jakarta, tetapi Pojok Pulsa Elektrik adalah Server Nasional sehingga jangkauan layanannya mencakup seluruh bagian dari wilayah Indonesia, semua transaksi area cluster dilakukan melalui mekanisme pengisian masing – masing chip operator yaitu MKIOS, MTRONIK, DOMPUL, Isi Esia, Dompet Three, e-AXIS dll.
Disamping pulsa elektrik , pojok pulsa juga menyediakan produk lainnya seperti Voucher Token PLN. Saat ini sudah banyak perumahan yang telah menggunakan Sistem Listrik Prabayar dari PLN, oleh karena itu pojok pulsa menyediakan produk ini untuk meningkatkan penjualan kita.
selain yang tertera di atas ,masih banyak lagi keunggulan yang akan didapat jiga bergabung menjadi member pojok pulsa selain itu pojok pulsa juga mengadakan kuis yang berhadiah ratusan ribu voucher pulsa ..wow asik :)
Untuk informasi :
Jln Pembina 1 Rt. 014/02 Cipinang Muara
Jatinegara, Jakarta Timur
Phone : (021) 950-98690 / 922-98937
Mobile : 0812-1-6060-600 (SMS Only)
http://pojokpulsa.co.id
selamat bergabung^^
Selasa, 10 April 2012
Sabtu, 07 April 2012
CERPEN dari...
Cermin Jiwa
Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri.
Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang
menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun
anggrek. Hangat matahari menyingkap kabut di rambutnya. Dari celah-celah bunga
anggrek, ia menatapi Ismail, lelaki muda di seberang jalan. Lelaki itu
menyusuri kesunyian ke kantor. Sepasang kupu-kupu mengitari kepalanya. Cahaya
matanya serupa cermin jiwa: memantulkan hangat semesta yang membuka cakrawala
Ulfa.
Di kebun anggrek itu Ulfa memantulkan kesegaran
bunga-bunga mekar. Gadis itu sengaja berada di kebun anggrek. Ia bisa mencium
aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak.
Mencuri pandang pada Ismail, lelaki kurus, dengan hidung mencuat, bibir tipis dan
jarang berbincang. Ketampanan lelaki itu terselubung sepi. Tinggal di rumah
kayu yang luas dan terpelihara, lelaki kurus itu terlambat menikah. Ulfa selalu
menatap matanya yang memantulkan keteduhan tanah yang ditumbuhi rumput, perdu,
dan bunga-bunga liar.
Tatapan Ulfa pada Ismail sering kali dilakukannya
dengan diam-diam, menakik rasa gundah yang nyeri di hati. Ismail seperti hidup
sendirian, setelah ibunya meninggalkannya, pergi begitu saja, pada umurnya yang
sepuluh tahun. Ulfa selalu memandangi lelaki itu sejak kecil. Lelaki itu terus
saja bekerja, mengaji ke surau, tanpa senyum, tanpa berbincang-bincang.
Ayah Ismail sungguh aneh. Lelaki tua itu selalu
keluyuran malam. Rambutnya memutih seluruhnya. Separuh wajah bagian kanan,
menghitam arang memendam bara. Ia selalu bepergian tiap malam, mencari lawan
berjudi, dan kata orang, sesekali mencuri sarang burung walet di tebing terjal
pantai. Ia merambati tebing-tebing karang selengket cicak. Lewat larut malam ia
pulang. Mabuk. Meracau. Teriak-teriak. Lantang. Menembus kabut dini hari.
Lambat laun Ulfa mulai paham, dan ia takjub,
melihat Ismail tumbuh dengan dirinya sendiri, di rumah kayu yang luas,
peninggalan kakeknya.
Pada gerimis yang rapuh, menjelang senja,
burung-burung sriti menghambur di atas pohon randu alas, di belakang surau.
Bercericit gaduh. Ayah Ismail mengetuk pintu rumah Ulfa, teratur dan sopan.
Suaranya berat dan patah-patah. Ulfa berlarian membukakan pintu. Meminta lelaki
berambut putih itu duduk di ruang tamu. Gugup.
“Tolong panggilkan ayah dan ibumu,” pinta ayah
Ismail. Sungguh gemetar Ulfa memandangi ayah Ismail. Tatapan lelaki tua itu
liar, beringas, dan menyerang.
Abah Lutfi, ayah Ulfa, tersenyum tenang.
“Aku ingin bicara juga dengan istrimu,” kata ayah
Ismail, dengan permohonan yang lembut. Tapi Umi, ibu Ulfa, menahan rasa takut,
getar dalam dada. Guncangan tertahan itu diredakannya.
“Begini, Abah Lutfi. Saya datang sore ini untuk
meminang Ulfa bagi Ismail. Saya sudah tua, tak bisa memberikan apa pun bagi
anak saya itu, kecuali mencarikannya jodoh.”
Terdiam. Lama. Belahan wajah hitam ayah Ismail
seperti bara terhembus angin. Lelaki tua itu mengambil napas, dan meredakan
rasa murka. Dipandanginya Abah Lutfi yang tersenyum.
“Aku serahkan pinangan ini pada Ulfa,” sahut Abah
Lutfi, teduh dan lembut.
Buru-buru Umi menyambut. “Aku minta waktu agar
anak gadisku cukup matang.”
Lelaki berambut memutih dengan belahan wajah hitam
itu tampak teduh dan tenteram. Memandangi Abah Lutfi dan Umi, bergantian,
mencari kepastian. Tiap saat ia menatap wajah Abah Lutfi yang tersenyum, bara
dalam belahan wajahnya padam. Tiap saat ia menatap wajah Umi yang menegang,
bara dalam belahan wajahnya menyala. Terhenti ia pada segaris senyum Abah
Lutfi, yang tulus, dan tak dibuat-buat. Lelaki tua itu menunduk. Terus tersenyum.
Ayah Ismail berdiam diri. Memandangi lagi Abah
Lutfi. Mencari keyakinan. Ayah Ismail mengangguk-angguk. Bangkit. Mohon diri.
Mengulurkan tangan. Menyalami Abah Lutfi. Berpamitan. Bukan sekadar bersalaman.
Ayah Ismail mencium tangan Abah Lutfi. Tertetes sepercik air mata di punggung
tangan Abah Lutfi.
Burung-burung sriti tak lagi gaduh bercericit.
Hinggap di dahan pohon randu alas. Seketika sepi, seketika pekat merambat.
Di surau, di belakang rumah kayu Abah Lutfi, samar
terdengar suara anak-anak mengaji. Abah Lutfi berdiam diri di meja makan.
Menelantarkan pepes ikan mas kesukaannya. Tak berselera. Dipandanginya Ulfa dan
Umi bergantian, kehilangan suara.
Telah mengering sepercik air mata di punggung
tangan Abah Lutfi. Tapi tangan itu tak segera dicucinya. Tak digerakkannya
untuk menuang nasi dalam piring. Tak melahap pepes ikan mas. Terdiam.
Menampakkan rautan renungan dalam wajahnya, terutama di sekitar mata.
“Apa yang Abah risaukan?” tegur Ulfa, pelan,
teduh.
“Bagaimana aku menampik lamaran ayah Ismail?”
“Kenapa mesti ditampik?”
Terbatuk, Abah Lutfi menukas, “Kau menerimanya?”
“Kalau Abah amati sisi wajah ayah Ismail yang
bersih, tentu tak perlu bimbang macam ini.”
“Kau menerima Ismail?”
“Saya hanya meminta Abah melihat sisi terang pada
wajah ayah Ismail.”
“Ho-ho, kau selalu begitu!”
Seketika, tersenyum dan
cairlah rautan renungan dalam wajah Abah Lutfi. Lelaki itu mengambil nasi,
makan dengan lahap. Pepes ikan mas itu tinggal duri-duri. Pada bagian kepala ikan pun dicecapnya. Terserak
remah-remah tulang belulang dan duri ikan di piring. Tak ada lagi percakapan.
Terdengar sendawa Abah Lutfi. Berkali-kali.
Sesuatu yang tak lazim, Ismail memandang ayahnya
bersarung, berpeci, dan buru-buru melangkah ke surau Abah Lutfi menjelang
magrib. Belum pernah Ismail melihat wajah ayahnya sebening itu. Belahan wajah
menghitam itu tak lagi membara. Belahan wajah itu seteduh lumpur sawah musim
tanam padi.
Malam hari ayah Ismail memasuki rumah,
pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara. Duduk di ruang tengah. Terbatuk. Menghirup
kopi. Merokok. Termenung. Sesekali mencuri-curi pandang ke arah anak lelakinya.
“Telah kulamar Ulfa untukmu,” kata ayah Ismail,
berat, dan menunduk. Tak tampak kerisauan pada wajah Ismail. Tetap tenang.
Melakukan segala hal sendirian. Diam-diam.
arah lelaki
tua itu. Tiap kali dilihatnya belahan hitam wajah lelaki itu, Umi—tanpa
disadarinya—bergidik. Buru-buru ia meninggalkan surau. Tak dilihatnya dalam
kelam puncak pohon randu alas, cericit burung-burung sriti beterbangan. Sesaat.
Kembali sunyi.
Tiap kali datang orang baru ke surau, Umi selalu
menyambut dengan mata bercahaya. Kali ini lain. Dadanya berdegup.
Meletup-letup. Tak bisa dibayangkannya, Ulfa, anak gadisnya, hidup serumah
dengan lelaki beringas, yang selalu membawa ceracau mabuk dan murka ke rumah.
“Ayah Ismail itu, uh, mengapa selalu datang ke
surau?” gerutu Umi.
“Mestinya Umi merasa senang. Dia datang ke surau
kita. Bukannya mabuk,” tukas Ulfa, mencengangkan.
“Dia berbuat begitu lantaran ingin meminangmu.”
“Ini lebih baik, daripada dia keluyuran malam, dan
mencuri sarang burung walet.”
Subuh keempat puluh ayah Ismail berkunjung ke
surau Abah Lutfi. Tak seorang pun menatap langit di atas pohon randu alas, di
belakang surau. Burung-burung sriti berkitar-kitar, bercericit,
hinggap-terbang, hinggap dan terbang lagi di pohon randu alas itu. Langit masih
gelap, dan burung-burung sriti itu luput dari perhatian orang-orang yang
bergegas ke surau.
Tak sekali pun ayah Ismail bertanya kepada Abah
Lutfi mengenai pernikahan anak lelakinya dengan Ulfa. Dalam diam bersimpuh, dia
biasa terisak-isak, dengan mata terpejam memanjatkan doa. Tatkala orang-orang
sudah meninggalkan surau, dia masih bersimpuh sendirian. Lama, hingga matahari
berkilau menghangati hamparan tikar surau. Lelaki tua itu beringsut, pelan, bangkit.
Kali ini, dalam dingin kabut dini hari, ayah
Ismail telah menyempurnakan ketenteraman wajahnya dari pergolakan. Belahan
hitam wajahnya tak menyeramkan, serupa lumpur sawah yang digenangi air: rata,
datar, menyimpan anugerah alam. Orang-orang di surau mulai menerima kehadiran
lelaki tua itu. Tak lagi menatap dengan selidik dan tatapan curiga.
Di tengah-tengah suara orang berdoa, sehabis
shalat subuh, ayah Ismail tak dapat menahan tubuh. Tersungkur. Tiada lagi napas
mengembus dari hidungnya. Ia rebah dengan tangan masih menggenggam tasbih.
Tubuhnya terjerembap. Tidak menggelepar. Tidak berkelejatan. Tubuh itu terburu,
kehilangan napas pelan-pelan, di antara orang- orang yang bersimpuh doa.
Mula-mula orang-orang tak menduga lelaki tua itu direnggut ajal. Tapi kemudian
orang-orang terperanjat, gugup dan memekik tertahan.
Kini orang-orang mulai melihat cericit
burung-burung sriti yang tak terhitung banyaknya, berkitar-kitar terbang di
puncak pohon randu alas, di belakang surau Abah Lufti. Dalam sekejap, sangat
cepat, burung-burung sriti itu hinggap di dahan dan ranting pohon randu alas.
Tak lagi mengepakkan sayap. Tak lagi bercericit gaduh.
Sepasang kupu-kupu kuning terbang di atas kepala
Ismail. Ulfa sangat gemas, ingin menangkap sepasang kupu-kupu itu. Selalu
dilihatnya tiap pagi, diam-diam di kebun anggrek yang menyembunyikan wajah dan
tubuhnya, kupu-kupu di atas kepala Ismail. Lelaki itu berangkat ke kantor.
Berjalan kaki. Selalu berjalan kaki ke mana pun pergi. Dan sepasang kupu-kupu
itu mengantarkannya menyusuri jalan berumput pada pagi berkabut, saat embun
meraup tersengat matahari.
Abah Lufti diam-diam memperhatikan perilaku anak
gadisnya. Sambil minum teh, menghisap pipa rokok, saat matahari menghangat, dia
menemukan anak gadisnya turun ke kebun anggrek samping rumah, hanya untuk
melihat Ismail. meninggalkan rumah, berjalan kaki, diiringi kupu-kupu. Mengapa
sepasang kupu-kupu? Dalam jarak yang begitu jauh, sepasang kupu-kupu itu terus
mengitari kepala Ismail.
Kepergok Abah Lutfi memasuki rumah, Ulfa tersipu-sipu.
Terhenti. Menanti teguran.
“Apa Abah mesti menegur Ismail, bagaimana
kelanjutan lamaran ayahnya dulu?”
“Biar Ismail sendiri yang menentukan,” tukas Ulfa
tenang. “Abah jangan salah sangka. Aku cuma suka memandangi sepasang matanya.
Sungguh aneh mata itu, selalu memancarkan alam yang lembut dan tanpa dendam. Aku
suka memandanginya.”
Pandana Merdeka, Februari 2007
Oleh
: Prasetyo Utomo
Sumber cerpen :
cerpenkompas.wordpress.com
PUISI buatan temen-temen
CINTA
Karya : Denny Ardi S.
CINTA adalah sekuntum bunga indah menawan
yang membuaiku dengan peluk hangat kasih sayang
lembut dekapan naluri pengertian
ungkapan kebaikan dan kejujuran
curahkan keindahan senyum kesetiaan
Cinta bikin
orang mabuk kepayang
siang malam selalu terbayang bayang
mengharap bahagia kan datang menjelang
tapi saat cinta bertepuk sebelah tangan
segalanya berubah menjadi kelam
cinta tak butuh janji
tapi butuh bukti yang pasti
hanya cinta sejati yang kan abadi sampai akhirnanti
siang malam selalu terbayang bayang
mengharap bahagia kan datang menjelang
tapi saat cinta bertepuk sebelah tangan
segalanya berubah menjadi kelam
cinta tak butuh janji
tapi butuh bukti yang pasti
hanya cinta sejati yang kan abadi sampai akhirnanti
Saat cinta
datang mengetuk pintu hati
membawa sekeranjang perhatian dan setangkai kasih sayng
sambut dengan senyum malu
setelah cinta singgah dihati
dunia terasa indah sekali
Bila cinta harus berakhir dengan kesedihan
jangan pernah menyesal dengan sebuah pertemuan
membawa sekeranjang perhatian dan setangkai kasih sayng
sambut dengan senyum malu
setelah cinta singgah dihati
dunia terasa indah sekali
Bila cinta harus berakhir dengan kesedihan
jangan pernah menyesal dengan sebuah pertemuan
Berterima
kasihlah kepada Tuhan atas perasaan
cinta yang di anugrahkan
mempertemukan perbedaan dalam suatu kisah perjalanan
menyatukan puing puing hati dalam satu kepastian
menghapus kehampaan saat hati dalam kesendirian
memberi makna rangkaian kisah kehidupan
mempertemukan perbedaan dalam suatu kisah perjalanan
menyatukan puing puing hati dalam satu kepastian
menghapus kehampaan saat hati dalam kesendirian
memberi makna rangkaian kisah kehidupan
SEBATAS MIMPI
Karya : Denny Ardi S.
Saat pertama
Kudekati dirimu
menuruti semua inginmu
dan tiba waktumu tuk beri jawaban
ternyata kau anggap aku hanya teman
bawalah aku kedalam mimpimu
aku tak akan kecewekan kamu
aku tak kan meninggalkanmu
walaupun itu semua
hanya sebatas mimpi
Jadikan aku kekasih hatimu
aku menginginkan kamu
telah berbagai cara
tuk dapatkan hatimu
tetap saja kau anggap aku hanya teman
menuruti semua inginmu
dan tiba waktumu tuk beri jawaban
ternyata kau anggap aku hanya teman
bawalah aku kedalam mimpimu
aku tak akan kecewekan kamu
aku tak kan meninggalkanmu
walaupun itu semua
hanya sebatas mimpi
Jadikan aku kekasih hatimu
aku menginginkan kamu
telah berbagai cara
tuk dapatkan hatimu
tetap saja kau anggap aku hanya teman
setelah aku
sadar diri
aku tinggalkan mimpi yang tak kan bertepi
aku tinggalkan mimpi yang tak kan bertepi
Dahsyatnya Cinta
Karya :
Dwi Wulan F.
Cinta........
mampu melunakkan besi
menghancurkan batu
membangkitkan yang mati
dan meniupkan kehidupan
padanya
membuat budak menjadi
pemimpin
mengubah pahit menjadi
manis
debu beralih emas
keruh menjadi bening
penjara menjadi telaga
derita menjadi nikmat dan
kemarahan menjadi rahmat
Cinta bukanlah kata murah
dan lumrah
Tetapi
Cinta adalah anugerah
Tuhan yang indah dan suci
Terima Kasihku
Karya :
Dwi Wulan F.
Terima kasihku.....
Untuk semua waktumu yang
kau berikan padaku
Untuk kasih sayang yang
tlah kau berikan padaku
Entah berapa lama kita
membagi rasa
Jangan ada dendam dihati
Meski hatiku tak lagi
milikmu
Aku bisa yakinkan
Cintaku tetap milikmu
Sisa hati ini tetap
kusimpan
Melewati ribuan malam
Aku bisa bertahan
Cintaku takkan hilang
Untukmu Ibu
Karya :
Dwi Wulan F.
Dari 1 bulan hingga 9
bulan 10 hari
Ia seperti orang yang
berpuasa
Yang berjuang menegakkan
agama Allah
Kesakitan yang dirasakan
sewaktu
Jabang bayi akan muncul
di dunia
Sepeti orang yang memerdekakan
hamba yang beriman
Kesakitan itu tlah
terlewati
Tak ada yang tahu
seberapa besar
Kebahagiaannya
Untuknya dari setiap
hisapan susu
Seperti orang yang
memerdekakan sepuluh hamba sahaya
Kisah
Jam Tua
Karya : Ichsan S.
Kau terus
berdetak..
Hingga
warnamu kian usang…
Dan dirimu
tak indah lagi dipandang..
Kau
terus berdetak
Walau
suasana sekelilingmu kian berubah..
Namun
dirimu tetap sama
Berdetak
tiap detik waktu
Dan
itulah kau..
Sampai kapan
kau akan terus berdetak
Hingga
mungkin kan seirama,
dengan detak
jantungku
Inilah
kisah jam tua...
Yang
terus berdetak di dinding kusam penuh noda
Dan
aku bertanya,
Sampai
kapankah kau kan terus berdetak ..
Pengagum
Rahasia
Karya : Ichsan S.
Kutulis
sebaris kata
Walau
sederhana
Untukmu Nona yang
mengusik jiwa
Senyummu
di musim cerah
Matamu
surya memancar ramah
Hadirmu
berikan sebuah kisah
Ingin ku
selami samudra hatimu
Temukan
mutiara tiada tara
Ingin ku
teriakkan isi hati ini
Tapi begitu
berat terasa
Ku
susun serangkai nada
Walau
sederhana
Terlantun bagimu Nona yang menyentuh
jiwa..
Dan
lihatlah aku Sang pengagum rahasia
MENGENANGMU
Karya : Juliani
M.R.
Di malam
gelap tak berbintang
Engkau
termangu menunggu siang
Menunggu
tibanya yang tersayang
Walaupun kau
tahu dia tak pulang
Perlahan
air matamu menggenang
Mengenang
dia yang kau sayang
Saat
–saat indah kau bersamanya
Kini
tiada terasa sisanya
Isak tangis dan harapan menggantung
Tak tahu mana yang beruntung
Kala dia bertarung
Mencari tempat bernaung
Tapi
apa daya. . .
Nasib
telah menjatuhkan kuasa
Atas
apa yang tak diketahui manusia
Kini. . . . . . .
Tinggal hari sepi yang menemani
Tanpa si dia dihati
Ibu
Karya :
Juliani M.R.
Kala malam masih gelap gulita
Engkau bangun………………..
Bersujud engkau di hadapan sang maha kuasa
Demi anakmu
Ibu……………………….
Kala
sang surya belum menerpa
Engkau
bangunkanku
Dan
berkata “Nak sholat”
Dengan
malas aku terjaga
Dengan
acuh aku laksana
Namun
engkau tetap setia
Membimbing
aku kehapan-NYA
Ibu…………..
Kala surya telah tinggi
Tiada henti engkau mengabdi
Rasa lelahpun tak engkau hiraui
Demi keluarga yang engkai cintai
Ibu……………………
Kala
surya tenggelam
Engkau
berbaring disebelahku
Wajah
ayumu tampak letih
Bukti
besarnya kerja kerasmu
Ingin
rasanya kukurangi bebanmu
Namun
apalah daya, aku takkan mampu
Aku
hanya dapat terpaku bisu
Menangis aku
dipelukmu
BELENGGU
Karya : Juliani
M.R.
Cinta……….
Satu kata membelenggu jiwa
Entah menawarkan rasa bahagia
Ataupun sengsara
Tak ada yang tahu makna sebenarnya
Cinta……………..
Mungkin
inilah rasaku untukmu
Rasa
yang ku pendam
Rasa
yang tak mampu untuk ku ungkapkan
Aku
terlalu egois untuk itu
Mungkinkah
rasamu sama sepertiku
Rasa
ini…………..
Rasa
yang menyesakkan dada
Rasa yang membelenggu jiwa
PANTUN buatan temen-temen
PANTUN
Karya :
Denny Ardi S.
Anak lalat,
anak lembu
bola itu bulat
sebulat cintaku
Ditengah pulau,
memakan jambu
gimana aku gak galau
kalo gak liat senyum manismu
anak lembu
bola itu bulat
sebulat cintaku
Ditengah pulau,
memakan jambu
gimana aku gak galau
kalo gak liat senyum manismu
Anak pak
lurah lagi marah
gara gara kena belati
kamu itu kayak lampu merah
setiap ketemu kamu bawaanya pengen berhenti
gara gara kena belati
kamu itu kayak lampu merah
setiap ketemu kamu bawaanya pengen berhenti
Ikan teri
diatas parang
kalau ketemu sehari
rasanya kurang
diatas parang
kalau ketemu sehari
rasanya kurang
Beli
kepiting
dapat bonus kapal perang
hatiku sudah aku setting
buat kamu seorang
dapat bonus kapal perang
hatiku sudah aku setting
buat kamu seorang
Beli topi
dapat bonus motor ninja
kalau aku lagi mimpi
pengennya ketemu kamu aja
dapat bonus motor ninja
kalau aku lagi mimpi
pengennya ketemu kamu aja
Beli lilin
dapat bonus fanta
biarpun kamu nyebelin
tapi aku tetap cinta
dapat bonus fanta
biarpun kamu nyebelin
tapi aku tetap cinta
Beli gado
gado
dipontianak
cintaku padamu seperti komedo
semakin dibersihkan semakin timbul banyak
dipontianak
cintaku padamu seperti komedo
semakin dibersihkan semakin timbul banyak
Pantun
Nasehat
Karya : Dwi Wulan F.
Jika pergi kepadang datar
Jangan lupa pulang berlabuh
Jika kita kepingin pintar
Belajarlah sungguh-sungguh
Ke hutan mencari rusa
Hendaklah membawa tali
Wahai anak bangsa
Lekas bangun cepat mandi
Masak angsa di kuali
Bukan saja di perigi
Hendaklah kamu mengabdi
Dipangkuan ibu pertiwi
Jika hendak kamu melamar
Jangan banyak tulis dihapus
Jika siswa rajin belajar
Sudah tentu pasti lulus
Pantun
Nasehat
Karya : Dwi Wulan F.
Banyak sayur dijual dipasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
Cepat cepatlah pergi makan
Kalau harimau mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama
Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan
Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh ketinggalan
Tapi jangan putus harapan
Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju
Ke hulu membuat pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Supaya jangan sesal kemudian
Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kalau nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati
Pantun
Agama
Karya : Dwi Wulan F.
Daun tetap diatas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Perbuatan haram jangan dicoba
Terang bulan terang bercahaya
Cahaya memancar ke tanjung hati
Jikalau hendak hidup bahagia
Beramal ibadah sebelum mati
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat dipintu kubur
Teringat jasad tidak sembahyang
Dua tiga empat lima
Enam tujuh delapan
Kita hidup takkan lama
Jangan lupa siapkan bekalan
Kera dihutan terlompat-lompat
Si pemburu memasang jerat
Hina sungguh sifat mengumpat
Dilaknat Allah dunia akhirat
Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal lapan
Duduk berdoa kepada Tuhan
Minta Allah tunjuk ketetapan
Anak ayam turunnya lima
Mati satu tinggal empat
Turut mengikut alim ulama
Supaya betul jalan makrifat
Pantun NasehatKarya : Ichsan S.
Bunga mawar bunga melati
Kalau dicium harum baunya
Banyak cara sejukkan hati
Baca Al-Quran paham maknanya
Beli roti jumlah sepuluh
Dimakan satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Agar tidak ketinggalan
Pergi tamasya membawa bekal
Jangan sampai dikerumuni lalat
Turutlah Nabi siapkan bekal
Dengan sebar ilmu yang manfaat
Ke
toko beli air minum
Perginya bareng si Hima
Kalau ada ulangan umum
Mari kita belajar bersama
Pantun CintaKarya : Ichsan S.
Pergi ke pasar mampir ke sawah
Di pasar membeli roti
Walau banyak gadis yang singgah
Hanya dinda yang memikat hati
Ke pasar malam bareng Dita
Karena ramai harus hati-hati
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati
Beli kemeja di Wonogiri
Tak jadi pergi karena ada tamu
Kemanapun dirimu pergi
Aku selalu merindukanmu
Makan pisang sampai kenyang
Habis itu minum jamu
Wahai gadisku sayang
Bolehkah aku bertamu
PANTUN
Karya : Juliani M.R.
Ada cewek yang paling kece
Cewek kece makan kedondong
Kelas mana sih yang paling oke
Pastinya XII IPA I dong
Kota
bandung kota kembang
Kembangnya
indah menghiasi pagi
Kalau
kamu memang sayang
Kenapa
selalu menyakiti hati
Jalan-jalan bersama bibi
Mampir sebentar ke pasar baru
Hai kawan selamat pagi
Bagaimanakah dengan kabarmu
Berwisata
ke kota Jogjakarta
Jangan
lupa beli batik
Hai
kawan selamat pagi juga
Kabarku
selalu baik
Menangkap ikan ditepi sungai
Sungai mengalir ke hulu samudra
Al-Quran adalah kitab suci
Pedoman hidup umat manusia
Jalan-jalan
bersama pak lurah
Jangan
lupa membeli guci
Membaca
Al-Quran adalah ibadah
Untuk
bekal dihari nanti
Buah semangka warnanya merah
Dibeli ibu didalam perahu
Luka di tangan nampak berdarah
Luka di hati siapa yang tahu
Dibeli ibu didalam perahu
Luka di tangan nampak berdarah
Luka di hati siapa yang tahu
naik motor merknya honda
pergi bertandang kerumah anapi
bila cinta mekar di dada
siang terkenang malam termimpi
pergi bertandang kerumah anapi
bila cinta mekar di dada
siang terkenang malam termimpi
bila terluka berkata begitu
hingga terlupa cinta yang suci
cinta manusia memanglah begitu
cinta pada-NYA cinta yang sejati
hingga terlupa cinta yang suci
cinta manusia memanglah begitu
cinta pada-NYA cinta yang sejati
Untuk menjadi seorang perjangga
Harus bertapa di dalam gua
Kalau cinta kukuh di jiwa
Biar melayang kembali jua
Harus bertapa di dalam gua
Kalau cinta kukuh di jiwa
Biar melayang kembali jua
Jalan-jalan ke kota sumbawa
mampir sebentar ke peternakan domba
teman sehati selalu bersua
karena tak bisa terpisahkan begitu saja
burung kakatuamampir sebentar ke peternakan domba
teman sehati selalu bersua
karena tak bisa terpisahkan begitu saja
hinggap dijendela
siapa yang jatuh cinta
pasti cemburu buta
Definisi Cinta ...???
Mari bicara cinta di malam mingu ini,malam yang dianggap
sakral bagi para pemuda pemudi penyuka cinta. Bila kita lihat dari sisi terluar
dari kearifan lokal, kita mendapati :
-
Bagi orang Buta cinta adalah cahaya yang bisa dilihat
baik siang dan malam hari .. dia tidakgelap seperti yang dirasakannya saat ini.
- Bagi Orang Gila, cinta adalah tertawa, karena kita bisa mentertawakan arti dari kegilaannya.
- Bagi Orang sakit, cinta adalah kesembuhan, dia akan berasa nikmat bila bisa beraktifitas kembali
- Bagi orang putus cinta, cinta adalah menemukan kembali sebahagiaan hidupnya yang
terenggut.
- Bagi orang jomblo, cinta adalah menemukan pasangan yang diidam-idamkannya
- Bagi orang sakit (homo,lesbi), cinta bisa dirasakan kalau dia sejenis
- Bagi orang tua, cinta adalah membahagiakan anak,istri,keluarganya
- Bagi suami, cinta adalah membahagiakan istri dan keluarganya.
- Bagi Kakek, cinta adalah universal, karena maut akan menjemput
- Bagi Nenek, cinta idem kayak kakek di atas
- Bagi Gigolo, Cinta kalau bisa memuaskan tante-tante dan dapat uang banyak…
- Bagi WTS, cinta adalah kalau kau mampu membayar seusai dengan apa yang dia inginkan
- Bagi orang yang susah mendapatkan pasangan, cinta adalah umum, beda alam,beda jenis tidak
masalah yang penting dapat.
- Bagi Supir Angkot, cinta adalah banyak penumpang, biar bini di rumah tidak marah-marah
- Bagi Tukang Becak, cinta adalah kesehatan yang prima, karena menggenjot butuh stamina
bung..!
- Bagi orang cacat, cinta adalah ketika kita tidak memandang mereka sebagai makhluk
tidak berguna.
- Bagi Koruptor, cinta adalah uang
- Bagi Rentenir, cinta adalah bunga (riba)
- dll.
- Bagi pembaca ini adalah bualan semata.
- Bagi Orang Gila, cinta adalah tertawa, karena kita bisa mentertawakan arti dari kegilaannya.
- Bagi Orang sakit, cinta adalah kesembuhan, dia akan berasa nikmat bila bisa beraktifitas kembali
- Bagi orang putus cinta, cinta adalah menemukan kembali sebahagiaan hidupnya yang
terenggut.
- Bagi orang jomblo, cinta adalah menemukan pasangan yang diidam-idamkannya
- Bagi orang sakit (homo,lesbi), cinta bisa dirasakan kalau dia sejenis
- Bagi orang tua, cinta adalah membahagiakan anak,istri,keluarganya
- Bagi suami, cinta adalah membahagiakan istri dan keluarganya.
- Bagi Kakek, cinta adalah universal, karena maut akan menjemput
- Bagi Nenek, cinta idem kayak kakek di atas
- Bagi Gigolo, Cinta kalau bisa memuaskan tante-tante dan dapat uang banyak…
- Bagi WTS, cinta adalah kalau kau mampu membayar seusai dengan apa yang dia inginkan
- Bagi orang yang susah mendapatkan pasangan, cinta adalah umum, beda alam,beda jenis tidak
masalah yang penting dapat.
- Bagi Supir Angkot, cinta adalah banyak penumpang, biar bini di rumah tidak marah-marah
- Bagi Tukang Becak, cinta adalah kesehatan yang prima, karena menggenjot butuh stamina
bung..!
- Bagi orang cacat, cinta adalah ketika kita tidak memandang mereka sebagai makhluk
tidak berguna.
- Bagi Koruptor, cinta adalah uang
- Bagi Rentenir, cinta adalah bunga (riba)
- dll.
- Bagi pembaca ini adalah bualan semata.
Langganan:
Komentar (Atom)